jump to navigation

6 Fakta Benar Seputar Vaksinasi… December 11, 2009

Posted by noorzaza in Artikel.
Tags:
trackback

Selama ini… yakin de… pasti sebagian besar orangtua taunya vaksinasi itu cuma sebatas tau en harus aja… belum tau macem-macemnya gimana…

Nahhh… sengaja dicopiin niy artikelnya… biar ayah bundanya ahnaf en nadhiifa ga cuma jadi orangtua yang ngikut-ngikut aja apa kata dokter… tapiii mestiii pinter donggg ^_^…

Parents Guide Juli 2009

Banyak mitos menyesatkan seputar keamanan dan keampuhan berbagai vaksin yang beredar di Indonesia. Lantas, apa kebenarannya?

Tak lama setelah si kecil lahir, hal yang selalu diingatkan oleh dokter adalah supaya Anda jangan lupa untuk melakukan imunisasi pada si buah hati sesuai jadwal. Hanya saja, tidak sedikit informasi menyesatkan seputar pemberian vaksin sehingga mungkin akan menimbulkan keraguan di hati Anda, “Betulkah vaksinnya aman? Jangan-jangan malah membuat anak saya jadi sakit atau bahkan menderita autis?”.

Pendapata tersebut memang masih banyak berkembang di masyarakat, bahkan dengan mudah dapat dijumpai di berbagai forum komunikasi antar ibu di dunia maya. Nah, apakah Anda termasuk ibu yang meragukan manfaat keamanan vaksin-vaksin yang beredar di tanah air? Bila ya, mudah-mudahan artikel ini dapat membantu menjawab kebingungan Anda.

Imunisasi = Hak Anak

Ketahuilah bahwa salah satu hak anak adalah hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan hal ini bahkan terlindungi oleh UU Perlindungan Anak no 23 tahun 2002 pasal 8. Bahkan UU Kesehatan no 23 tahun 1992 pasal 4 dan 5 menyebutkan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal, dan keluarga berkewajiban ikut serta dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan, keluarga, dan lingkungannya. Tentu saja, anak-anak termasuk di dalamnya.

Orangtua berkewajiban memenuhi semua hak anak sesuai Konvensi Hak Anak, termasuk hak anak untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Salah satu upaya peningkatan kesehatan anak adalah pencegahan penyakit dengan meningkatkan kekebalan (imunisasi). Dengan demikian, kebutuhan anak untuk hidup sehat dan mendapatkan imunisasi lengkap merupakan haknya yang telah dilindungi oleh undang-undang

Telah Teruji

Sebaiknya, Anda juga usah merisaukan manfaat setiap vaksinasi baik yang diwajibkan maupun dianjurkan pemerintah. Pasalnya, dr. Soedjatmiko, DSA RSCM menyebutkan bahwa imunisasi secara ilmiah telah lama terbukti dapat merangsang kekebalan spesifik tubuh anak sehingga membentuk perlindungan khusus terhadap kuman-kuman tertentu. “Anak yang telah diimunisasi akan mempunyai kekebalan spesifik untuk melawan penyakit tertentu, sesuai jenis vaksinnya, sehingga mereka terlindung dari penyakit menular tersebut” katanya

Mitos vs Fakta tentang vaksinasi

Cemas terhadap keamanan vaksin! Yuk kita simak sejumlah mitos dan fakta seputar imunisasi si kecil berikut ini :

  • Vaksin mengandung merkuri berbahaya

Tidak benar. Menurut dr. Soedjatmiko, Timerosal (etil-merkuri) di dalam vaksin sudah digunakan dalam vaksin sejak tahun 1940-an, untuk mencegah kontaminasi bakteri dalam program vaksin masal. Yang sangat beracun adalah metil merkuri, bukan etil merkuri. Batas maksimal yang direkomendasikan WHO adalah 159 mcg/kg berat badan/minggu. Kadar timerosal dalam vaksin sangat rendah, sehingga sampai umur 6 bulan, setelah mendapat 3 kali DPT, Hepatitis B, BCG, rata-rata hanya mendapat 1,25 mcg/

  • MMR bisa menjadi pencetus autisme

Sebenarnya, hingga saat ini penyebab autisme belumlah diketahui pasti, karena berbagai penelitian hasilnya berbeda-beda tidak sama. Ada yang menuduh karena MMR, tetapi faktanya banyak anak autis yang justru belum pernah mendapat vaksin sama sekali tapi tetap autis. Sebagian ahli mengatakan autisme lebih disebabkan karena kekurangan neurotransmitter di otak, karena gangguan dalam proses kehamilan, dll. Selain itu, telah banyak penelitian yang dipublikasi di jurnal ilmiah profesional sekitar tahun 2000-an yang menyimpulkan tidak ada hubungan MMR dengan autisme. Sebut saja, penelitian Loringa Dales, Hammer SJ dan Smith NJ yang dipublikasi di Journa of America Medical Association 2001, yang menganalisa data anak-anak autis di North California sejak tahun 1980 sampai 1994 menyimpulkan tidak ada hubungan MMR dan autisme. Juga penelitian James A Kaye yang dipublikasikan di British Medical Journal, menganalis data anak autis sejak 1986-1993 , menyimpulkan tidak ada hubungan MMR dan autisme. Oleh karena itu berbagai organisasi profesional misalnya Workin Parry on MMR vaccine of the United Kingdom, Committee on Safety of Medicine, Institute of Medicine, American Medical Association sama-sama menyimpulkan tidak ada hubungan MMR dan autisme.

  • Vaksin impor lebih baik dan lebih aman dari vaksin lokal

yang harganya jauh lebih murah. Kebenarannya adalah vaksin yang digunakan di sarana pelayanan pemerintah adalah buatan Biofarma, Bandung dengan pengawasan oleh ahli-ahli vaksin WHO sehingga kualitasnya dipercaya di seluruh dunia. Tak hanya itu, vaksin buatan Biofarma melalui WHO digunakan di lebih 100 negara di dunia, karena terbukti aman dan bermanfaat melindungi terhadap penyakit berbahaya.

Selain vaksin yang disediakan pemerintah, bila orangtua mampu, terdapat vaksin import yang telah mendapat ijin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Vaksin import juga digunakan di seluruh dunia, dan mendapat pengawasan oleh tim ahli masing-masing negara dan oleh WHO, sehingga terbukti bermanfaat dan aman. Sehingga, pilihan pemberian vaksin lokal maupun import dikembalikan kepada Anda.

  • BCG penyebab bisul dan koreng pada anak

Memang, setelah imunisasi BCG kadang-kadang timbil seperti bisul dan koreng di bekas suntikan, itu adalah reaksi normal tubuh terhadap vaksin BCG. Kadang-kadang juga timbil demam, kemerahan, dan bengkak pada bekas suntikan DPT, campak, atau Hepatitis B, itu juga reaksi normal yang akan hilang dalam beberapa hari. Jadi, jangan panik ya.

  • Vaksinasi menjamin kekebalan tubuh 100%

Tidak tepat. ANak yang telah diimunisasi akan mampu melawan penyakit tertentu, sesuai jenis vaksinnya, sehingga mereka terlindung dari bahaya penyakit menular tersebut. Tetapi, memang beberapa anak yang telah diimunisasi kadang masih bisa tertular penyakit tersebut, hanya saja jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Sementara, anak yang belum diimunisasi tidak mampu melawan penyakit menular tersebt, sehingga dapat mengakibatkan sakit berat, cacat, atau meninggal.

  • Cacar air, penyakit “wajib” sekali seumur hidup, jadi tidak perlu divaksin.

Tidak benar. Menurut dr. Hindra Irawan Satari, SPA(K) RSCM, setiap anak berhak untuk hidup sehat. Jadi, jika ada vaksin yang bisa melindungi anak dari penyakit tertentu, kenapa tidak divaksin? Termasuk vaksin varisela yang melindungi anak dari cacar air.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: