jump to navigation

Disiplin Tanpa Amuk… December 7, 2009

Posted by noorzaza in AyahBunda.
Tags: , , ,
trackback

Tak perlu pukulan. Tak perlu kekerasan. Teguran dengan cinta adalah mutlak.

Memarahi bahkan sampai memukul, kadang dianggap efektif untuk mendisiplinkan anak balita. Padahal, Dua hal ini malah harus dihindari karena bisa menimbulkan masalah pada aspek psikologis dan fisiologis anak.

Beberapa penelitian mengungkap pengaruh pukulan terhadap perkembangan otak

  1. Memukul anak usia 1 tahun, dapat berpengaruh pada perkembangan intelektual anak yang akan mengarah kepada perilaku agresif dalam 3 tahun ke depan. Proses tumbuh kembang otak yang pesat di usia tersebut bisa terganggu bila anak mengalami rasa takut, terutama karena dipukuli
  2. Pengalaman emosional anak pada usia balita, seperti merasakan kehangatan hubungan dengan keluarga, kelekatan dan komunikasi yang penuh kasih sayang, merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi perkembangan otak anak, berkaitan dengan pertumbuhan sinaps-sinaps di otak
  3. Secara psikologis akan mempengaruhi rasa percaya diri dan rasa aman anak dalam lingkungan keluarga. Anak belum bisa memahami sudut pandang orangtua, lalu mereka mengartikan sendiri maksud dari kemarahan atau pukulan yang diterimanya. Padahal orangtua bermaksud agar anak menampilkan perilaku sesuai keinginan orangtua. Jadi dari kemarahan dan pukulan yang diterimanya, seorang anak justru tidak belajar menampilkan perilaku yang diinginkan orangtua. Ia malah
  • Membangun rasa khawatir dan takut dimarahi atau dipukul. Akibatnya, anak menjadi pribadi yang tidak percaya diri atau takut salah.
  • Mengembangkan rasa tidak aman dan tidak nyaman berada di dalam keluarga karena anak merasa tidak diterima atau tidak dicintai
  • Mengembangkan perilaku yang sama dalam memperlakukan anaknya kelak, bahkan dalam memperlakukan orantua ketika sudah usia lanjut.

Tepat Ajari Disiplin

Menerapkan disiplin berarti mengajarkan pada anak perilaku sesuai norma dan batasan sesuai usia. Beberapa prinsip dasar mengajarkan disiplin adalah

Orangtua jadi contoh atau model bagi anak. Jangan berbicara selagi mengunyah makanan bila anda tak ingin anak melakukannya, misalnya

Konsisten dan berkelanjutan bukan hanya dalam menerapkan aturan kepada anak, tapi juga kompak antara ayah dan ibu. Bila ibu melarang anak minta mainan setiap kali ke mal, ayah pun harus juga melarang

Aturan jelas, spesifik dan sesuai usia anak. Melarang si 3 tahun berlarian di dalam rumah adalah mustahil, mengingat anak usia itu sedang giat mengembangkan ketrampilan motorik kasarnya. Kalau lantai sedang dipel, jelaskan saja bahwa ia bisa tergelincir, jatuh, dan kesakitan

Berikan pilihan dan bila dia menolak atau melanggarnya, tanyakan alasannya lalu bicarakan bersama untuk mencari solusinya, Misalnya si kecil selalu membuang bekal sekolahnya, ajak ia menentukan apa bekal pilihannya

Menggunakan konsekuensi

  • Memberi hukuman merupakan cara paling efektif untuk menghilangkan perilakuy anak yang tidak sesuai. Tapi jenis hukuman hendaknya bukan tindakan yang dapat menyakiti anak baik secara fisik maupun psikologis. Hukuman berarti mengambil apa yang menjadi kesenangannya. Misalnya, anak menolak membereskan mainan. Jelaskan bahwa hal itu bisa mencelakai orang lain dan berikan pilihan kepada anak untuk segera merapikannya. Bila tidak, dia akan kehilangan waktu menonton acara favoritnya di televisi.
  • Memberikan hadiah dapat membantu orangtua untuk mempertahankan atau meningkatkan perilaku anak yang diharapkan. Hadiah berupa pujian atau ekspresi kasih sayang sebaiknya diberikan, misalnya kecupan atau pelukan. Hindari hadiah berupa uang atau barang.

Bila terlanjur marah

Bila anda merasa bersalah berarti anda paham bahwa memarahi dan memukul anak usia balita tidak dibenarkan. Maka

Tenangkan diri anda di dalam atau di luar ruangan sebelum bicara dengan si kecil. Atur napas dan hitung sampai sepuluh atau sampai anda merasa sudah bisa mengendalikan emosi, baru pergi menemui si kecil

Hilangkan rasa bersalah yang muncul setiap kali anda merasa tidak dapat memenuhi kebutuhan anak atau anggota keluarga lain. Karena tidak ada manusia yang sempurna yang bebas dari kesalahan, termasuk anda. Sehingga anda tidak frustasi yang justru dapat memicu kemarahan anda.

Yakinkan diri, anda bisa menjadi orangtua yang baik. Misalnya tunjukkan kepada si kecil bahwa Anda memahami dan menghargai

Hal-hal yang disukai maupun tidak disukai olehnya

Semua potensi dirinya yang tampak maupun tidak, sebagau satu kesatuan yang membentuk pribadinya menjadi unik

Usaha si kecil dalam menghadapi persoalannya sebagai suatu tantangan hidup baginya. Ini akan membantunya menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri dalam menghadapi berbagai perubahan yang terjadi.

AyahBunda-November 2009

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: